ISEKABAR.ID, Sangatta - Jujur aja, masa muda itu fase paling rawan antara jadi generasi produktif atau generasi “nanti saja”. Ide ada banyak, isi kepala penuh imajinasi, tapi eksekusinya sering kalah sama rasa takut, overthinking, dan kebiasaan menunda. Padahal, kalau ada satu waktu yang paling ideal buat gagal, coba-coba, dan nekat, ya sekarang saat masih muda. Bagi saya sebagai kader PMII yang sudah berproses sekitar lima tahun di dunia kaderisasi, produktif itu bukan sekadar sibuk.
Produktif itu soal berani mengeksekusi ide, meski belum sempurna. Karena di PMII, wacana tanpa aksi cuma akan jadi arsip diskusi yang dilupakan setelah forum bubar. Masa muda punya satu privilege besar: keberanian. Kita belum terlalu dibebani rasa takut kehilangan. Belum banyak “yang harus dijaga”. Itulah kenapa para pemikir menyebut fase ini sebagai masa pembentukan identitas.
Erik Erikson bilang, ini fase kita nanya ke diri sendiri: “Aku mau jadi siapa?” Dan jawaban itu nggak akan ketemu kalau cuma dipikirkan, harus dicoba, dijalani, bahkan ditabrakkan ke realitas. Di PMII, kaderisasi sejatinya adalah ruang eksperimen. Diskusi, pelatihan, aksi sosial, hingga advokasi itu bukan formalitas. Itu laboratorium.
John Dewey menyebutnya learning by doing. Kita belajar bukan dari teori doang, tapi dari nyemplung langsung ke persoalan. Makanya, ide yang cuma disimpan di kepala tanpa dieksekusi itu sebenarnya ide yang pelan-pelan mati. Masalahnya, banyak anak muda termasuk kader yang terlalu sibuk nunggu “waktu yang tepat”. Padahal, waktu yang tepat sering nggak pernah datang. Yang ada justru waktu berjalan, usia bertambah, dan keberanian makin tipis.
Ulrich Beck menyebut kita hidup di masyarakat yang penuh risiko. Sedikit-sedikit takut salah, takut gagal, takut nggak aman. Akhirnya, banyak yang memilih aman tapi stagnan. Padahal, produktif itu nggak harus langsung besar. Nulis opini, bikin gerakan kecil, ngurus rayon, komisaria maupun cabang dengan serius, turun ke masyarakat, atau sekadar konsisten ngembangin ide Kegiatan, semua itu sudah bentuk keberanian.
Malcolm Gladwell bilang, keunggulan lahir dari proses panjang, bukan dari sekali sukses. Tapi proses panjang cuma bisa dimulai kalau kita berani mulai. Soekarno pernah bilang, pemuda adalah pengguncang dunia. Tapi pemuda yang dimaksud bukan yang cuma rame di timeline atau jago debat tanpa aksi. Yang diguncang itu dunia nyata melalui ide yang dieksekusi dan keberpihakan yang diperjuangkan. Di titik ini, kader PMII punya tanggung jawab moral nggak cuma jadi penonton sejarah, tapi ikut nimbrung di dalamnya.
Che Guevara pernah menegaskan bahwa revolusi bukanlah hasil dari kata-kata, melainkan dari tindakan yang lahir dari kesadaran. Dalam pandangannya, pemuda revolusioner bukan mereka yang paling fasih berbicara, tetapi yang paling siap mengorbankan kenyamanan demi perubahan. Pemikiran ini relevan bagi kader PMII hari ini ide besar tanpa keberanian praksis hanya akan menjadi slogan kosong.
Dan soal gagal? Santai aja bat. Gagal di usia muda itu masih murah. Albert Einstein bilang, orang yang nggak pernah salah itu berarti nggak pernah mencoba hal baru. Dalam proses kaderisasi, gagal itu justru tanda kita sedang bertumbuh. Yang bahaya bukan gagal, tapi berhenti bergerak karena takut.
Gus Dur berkali-kali mengingatkan bahwa perubahan sosial tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari keberanian berpikir merdeka dan bertindak jujur. Baginya, keberanian moral adalah fondasi utama gerakan. Dalam konteks kaderisasi PMII, produktivitas bukan sekadar aktivitas organisatoris, tetapi ikhtiar menjaga nurani tetap hidup di tengah realitas yang sering kompromistis.
Kalau masa muda cuma dihabiskan untuk menunda, lama-lama hari kita habis begitu saja. Bangun, rutinitas, pulang, ulang lagi. Tanpa cerita. Tanpa jejak. Padahal, kelak yang tersisa bukan cuma gelar atau jabatan, tapi cerita tentang keberanian kita saat muda. Jadi, selagi muda, jangan cuma wacana.
Eksekusi ide mu, salah? Perbaiki bro. Jatuh? Bangkit lagi bro. Karena nanti, ketika usia bertambah dan pilihan makin sempit, kamu bakal bersyukur pernah nekat di masa muda dan punya cerita hebat tentang proses mu sendiri.