PENAJAM - Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengambil langkah proaktif untuk menyelesaikan kesenjangan kualitas layanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah umum. Pelatihan pendidikan inklusi secara berjenjang kini diprioritaskan bagi para tenaga pendidik reguler.
Kebijakan ini diambil menyusul kondisi nyata di lapangan di mana mayoritas guru SD maupun SMP di PPU berlatar belakang pendidikan umum, bukan lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Keterbatasan kompetensi khusus ini berisiko menghambat pemenuhan hak belajar anak rentan.
Sekretaris Disdikpora Kabupaten PPU, Durajat, membeberkan salah satu potret tantangan fasilitas pendidikan dasar di daerah yang membutuhkan penanganan mendesak.
"Sebagai gambaran di lapangan, ambil contoh di SD Negeri 010. Di sana ada lebih dari 10 anak berkebutuhan khusus yang mengenyam pendidikan. Bayangkan, sementara dari sisi tenaga pendidik, tidak ada satu pun guru yang memiliki latar belakang khusus PLB," papar Durajat, Selasa (13/10/2026).
Menanggapi keterbatasan tersebut, Disdikpora PPU merancang program pelatihan terstruktur dari Tahap 1, Tahap 2, hingga level lanjutan. Lewat pelatihan ini, para guru sekolah umum dibekali keahlian teknis, mulai dari pemahaman psikologis anak, metode pendampingan, hingga penyusunan kurikulum pembelajaran adaptif.
Semua data kelulusan guru yang telah menyelesaikan tingkatan pelatihan dicatat secara rinci oleh dinas sebagai dasar pemetaaan distribusi tenaga pengajar inklusif di tiap wilayah.
"Disdikpora berkomitmen mengupayakan layanan pendidikan yang setara, bermutu, dan inklusif bagi seluruh peserta didik, tanpa diskriminasi, sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing," tandasnya.
Melalui penguatan kapasitas pendidik ini, Pemkab PPU optimistis dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang ramah anak, responsif terhadap keberagaman peserta didik, serta mampu mengikis diskriminasi di dunia pendidikan dasar. (Adv)