SAMARINDA – Nilai-nilai kebangsaan dinilai perlu terus diaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat seiring dengan perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, Syafruddin.
Pesan tersebut disampaikan Syafruddin dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dilaksanakan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan tersebut membahas empat unsur yang menjadi materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.
Syafruddin menilai pemahaman mengenai nilai kebangsaan tidak cukup hanya disampaikan melalui kegiatan formal. Menurutnya, masyarakat perlu menerjemahkan nilai tersebut dalam sikap dan tindakan sehari-hari, termasuk dalam menghadapi berbagai perubahan di lingkungan sosial.
“Yang paling penting bukan hanya mengetahui apa itu Empat Pilar, tetapi bagaimana kita menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai Pancasila, konstitusi, persatuan dan keberagaman harus terlihat dalam cara kita berinteraksi dengan sesama,” kata Syafruddin.
Ia mengatakan perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat juga membuat masyarakat perlu memiliki sikap yang bijak dalam menerima maupun menyampaikan informasi.
Menurutnya, kemajuan teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan sosial dan memperluas manfaat bagi masyarakat, bukan menjadi sarana yang justru memperbesar perbedaan.
“Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat harus semakin bijak. Jangan sampai perbedaan pandangan di ruang digital maupun di lingkungan sosial membuat kita kehilangan semangat persaudaraan dan persatuan sebagai sesama warga negara,” ujarnya.
Syafruddin juga menekankan bahwa keberagaman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Perbedaan latar belakang, budaya, agama maupun pandangan sosial, kata dia, perlu ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan bangsa.
“Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan kita untuk hidup dalam keberagaman. Karena itu, perbedaan jangan dijadikan alasan untuk saling menjauh, tetapi harus menjadi dasar untuk membangun sikap saling menghormati dan menjaga kebersamaan,” tuturnya.
Selain membahas nilai-nilai kebangsaan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang dialog antara masyarakat dan anggota MPR RI. Peserta diberikan kesempatan menyampaikan pandangan serta berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Syafruddin berharap kegiatan Sosialisasi Empat Pilar dapat mendorong masyarakat untuk semakin memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara serta memiliki kesadaran menjaga persatuan di tengah berbagai dinamika sosial.
“Harapan kita, pemahaman yang diperoleh dari kegiatan ini dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Mulai dari keluarga, lingkungan masyarakat, sampai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat gotong royong, toleransi dan persatuan harus terus kita jaga,” pungkasnya.