PENAJAM – Realisasi investasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, menghadapi tekanan sepanjang 2026. Hingga Triwulan III, nilai investasi yang masuk baru mencapai sekitar Rp700 miliar. Angka tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp3,3 triliun.
Perlambatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi capaian investasi di daerah berjuluk Gerbang Nusantara tersebut.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) PPU, Amrullah, mengatakan penyesuaian ritme pembangunan IKN berdampak langsung terhadap arus investasi yang tercatat dalam sistem Online Single Submission (OSS).
Meski demikian, sektor kesehatan masih menjadi penopang utama investasi swasta di PPU. Sejumlah proyek rumah sakit berskala besar, seperti RS Hermina Nusantara, Mayapada Hospital Nusantara, dan RS Abdi Waluyo, turut mendorong masuknya modal ke daerah tersebut.
Kondisi ini berbeda jauh dibandingkan 2024. Saat pembangunan infrastruktur IKN berlangsung masif, realisasi investasi PPU mampu menembus Rp3,7 triliun, melampaui target saat itu sebesar Rp2,5 triliun.
Amrullah mengungkapkan, DPMPTSP sebenarnya telah mengusulkan target investasi yang lebih realistis, yakni sekitar Rp1,6 triliun. Namun, pemerintah pusat melalui BKPM menetapkan target lebih tinggi, mencapai Rp3,3 triliun.
Menghadapi sisa waktu hingga akhir tahun, DPMPTSP PPU kini mengintensifkan pengawalan dan pemantauan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan aktivitas investasi yang sudah berjalan dapat tercatat secara akurat dalam sistem. Pemerintah daerah juga berharap optimalisasi pelaporan LKPM mampu mengidentifikasi potensi investasi baru sehingga realisasi penanaman modal dapat terus digenjot hingga penutupan tahun 2026.(Adv)